Yayasan Sabilul Haq

Mulianya Salam dalam Islam

Mutiara Hikmah dari Al-Qur’an dan Al-Hadits

 

Setiap bangsa atau agama memiliki tahiyyah (salam penghormatan) sendiri-sendiri.
Allah telah memilihkan untuk kaum muslimin salam penghormatan yang paling baik, paling mulia, dan paling sempurna.
Dan salam ini tidak hanya sekedar ucapan hiasan lisan saja, tapi terkandung juga didalamnya doa keselamatan dan kesejahteraan

يقول تعالى :
{وَإِذَا حُیِّیتُم بِتَحِیَّةࣲ فَحَیُّوا۟ بِأَحۡسَنَ مِنۡهَاۤ أَوۡ رُدُّوهَاۤۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَیۡءٍ حَسِیبًا} [النساء:86]

Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” [An-Nisa: 86]

Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata,
Apabila seorang muslim mengucapkan salam kepada kalian, maka balaslah salamnya itu dengan salam yang lebih baik darinya, atau balaslah ia dengan salam yang sama. Salam lebihan hukumnya sunat, dan salam yang semisal hukumnya fardu.

Ibnu Jarir meriwayatkan dalam tafsirnya,
Dari Salman Al-Farisy berkata:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَقَالَ: “وَعَلَيْكَ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ”. ثُمَّ أَتَى آخر فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَرَحْمَةُ اللَّهِ. فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “وَعَلَيْكَ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ”. ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ فَقَالَ لَهُ: “وَعَلَيْكَ” فَقَالَ لَهُ الرَّجُلُ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي، أَتَاكَ فُلَانٌ وَفُلَانٌ فَسَلَّمَا عَلَيْكَ فَرَدَدْتَ عَلَيْهِمَا أَكْثَرَ مِمَّا رَدَدْتَ عَلَيَّ. فَقَالَ: “إِنَّكَ لَمْ تَدَعْ لَنَا شَيْئًا، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا} فَرَدَدْنَاهَا عَلَيْكَ”.

Ada seorang lelaki datang kepada Nabi, lalu ia mengucapkan, “Assalamu ‘alaika, ya Rasulullah (semoga keselamatan terlimpahkan kepadamu, wahai Rasulullah).” Maka Rasulullah menjawab: Semoga keselamatan dan rahmat Allah terlimpahkan atas dirimu. Kemudian datang pula lelaki yang lain dan mengucapkan, “Assalamu ‘alaika, ya Rasulullah, warahmatullahi (semoga keselamatan dan rahmat Allah terlimpahkan kepadamu, wahai Rasulullah).” Maka beliau menjawab: Semoga keselamatan dan rahmat serta berkah Allah terlimpahkan atas dirimu. Lalu datang lagi lelaki yang lain dan mengucapkan, “Assalamu ‘alaika, ya Rasulullah, warahmatullahi wabarakatuh (semoga keselamatan, rahmat Allah, dan berkah-Nya terlimpahkan kepadamu, wahai Rasulullah).” Maka Rasulullah menjawab: Hal yang sama semoga terlimpahkan kepadamu. Maka lelaki yang terakhir ini bertanya, “Wahai Nabi Allah, demi ayah dan ibuku yang menjadi tebusanmu, telah datang kepadamu si anu dan si anu, lalu keduanya mengucapkan salam kepadamu dan engkau menjawab keduanya dengan jawaban yang lebih banyak dari apa yang engkau jawabkan kepadaku.” Maka Rasulullah bersabda: Karena sesungguhnya engkau tidak menyisakannya buatku barang sedikit pun, Allah telah berfirman, “Apabila kalian diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik darinya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). (An-Nisa: 86),” maka aku menjawabmu dengan salam yang serupa.

Imam Ahmad meriwayatkan,
Dari Imron bin Hushoin berkata,

أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ فَرَدَّ عَلَيْهِ ثُمَّ جَلَسَ، فَقَالَ: “عَشْرٌ”. ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: “السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ. فَرَدَّ عَلَيْهِ، ثُمَّ جَلَسَ، فَقَالَ: “عِشْرُونَ”. ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. فَرَدَّ عَلَيْهِ، ثُمَّ جَلَسَ، فَقَالَ: “ثَلَاثُونَ”.

Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah, lalu mengucapkan, “Assalamu ‘al’aikum, ya Rasulullah,” lalu Rasulullah menjawabnya dengan jawaban yang sama, kemudian beliau duduk dan bersabda, “Sepuluh.” Kemudian datang lelaki lainnya dan mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum warahmatullahi, ya Rasulullah,” lalu Rasulullah menjawabnya dengan jawaban yang sama, kemudian duduk dan bersabda, “Dua puluh.” Lalu datang lelaki lainnya dan bersalam, “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” maka Nabi membalasnya dengan salam yang serupa, kemudian duduk dan bersabda, “Tiga puluh.”
(Tafsir Ibnu Katsir)

Berkata Syaikh Abdurrohman As-Sa’dy رحمه الله,

التحية هي: اللفظ الصادر من أحد المتلاقيين على وجه الإكرام والدعاء، وما يقترن بذلك اللفظ من البشاشة ونحوها. وأعلى أنواع التحية ما ورد به الشرع، من السلام ابتداء وردًّا. فأمر تعالى المؤمنين أنهم إذا حُيّوا بأي تحية كانت، أن يردوها بأحسن منها لفظًا وبشاشة، أو مثلها في ذلك. ومفهوم ذلك النهي عن عدم الرد بالكلية أو ردها بدونها. (السعدي).

Tahiyyah (Salam penghormatan) adalah lafadz yang diucapkan dari salah satu dari dua orang yang bertemu dalam bentuk pemulyaan dan doa, dan juga hal yang bersamaan dengan lafadz itu berupa wajah yang berseri-seri dan semisalnya, dan dari berbagai macam salam penghormatan itu yang paling tinggi ialah apa yang diriwayatkan oleh syariat, dari ucapan salam diawalnya dan juga balasannya. Allah memerintahkan kaum mukminin, jika mereka diberi ucapan salam dengan salam penghormatan apasaja,
supaya menjawab dengan cara yang lebih baik darinya baik secara lafadz atau keceriaannya,
atau semisal dengan hal itu. Dan bisa dipahami dari hal itu ialah larangan dari tidak memberikan balasan secara menyeluruh atau membalas dengan cara yang dibawahnya.
(Tafsir As-Sa’dy)

Hikmah Qur’aniyyah wa Nabawiyyah fid Din wad Dunya

Allah memerintahkan kepada kaum muslimin, apabila ada seseorang mengucapkan salam kepadanya, hendaknya dia mebjawab salamnya dengan ucapan salam yang lebih baik dari salam yang diucapkannya kepadanya. Atau menjawab dengan ucapan salam yang setara dengan apa yang diucapkannya. Tetapi menjawab ucapan salam dengan ucapan yang lebih baik tentu lebih utama. Sesungguhnya Allah mencatat amal perbuatan hambanya dan akan memberikan balasan yang setimpal kepada setiap orang sesuai dengan amal perbuatannya.

Ustadz Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

Facebook
WhatsApp
Telegram
Twitter

Artikel

Kisah Sufyan Bin Uyainah Dengan Anak Kecil

Dikisahkan suatu ketika Sufyan bin Uyainah rahimahullah (wafat 198H) menyampaikan pelajaran. Di sela-sela menyampaikan pelajaran ada anak kecil masuk, si anak membawa kertas dan tinta.

Nikmat Rasa Aman

Rasa aman adalah suatu nikmat. Coba kita perhatikan bagaimana jika kita hidup di lingkungan yang tidak aman. Misal, di sekitar kita banyak pemabuk. Malam hari

Menabung

Mari kita simak bersama kisah seorang ulama bahasa Arab bernama Imam Abu al-Abbas al-Mubarrid -rahimahullah-. Cerita berawal saat seorang penuntut ilmu yang bernama Abu Ishaq

Berita

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *